RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

Candi Portibi


Foto : Candi Portibi (Sumber : Berbagai Media)Foto : Candi Portibi (Sumber : Berbagai Media)

Medan – , Sumatera Utara merupakan salah satu Provinsi yang terkenal akan khasana budayanya. Banyak adat istiadat yang dimliki oleh Provinsi ini. Salah satu budaya yang mempengaruhinya adalah budaya Hindhu-Budha. Perkembangan budaya Hindu-Budha dapat kita jumpai di daerah Selatan Tapanuli tepatnya di daerah Kabupaten Padang Lawas Utara. Dengan peninggalan sejarahnya berupa Candi. Candi ini merupakan candi peninggalan abad 11 M oleh Kerajaan Portibi. Dan dikenal oleh masyarakat dengan Nama Candi Portibi. Di dalam kompleks candi, terdapat 3 candi yang dikenal dengan candi Portibi I, Portibi II dan Portibi III. Oleh Masyarakat sekitar disebut dengan Candi Bahal. Candi ini terletak sepanjang sungai Padang Bolak di Kecamatan Portibi, Desa Bahal, Padang Lawas Utara (dahulu Tapanuli Selatan).
Banyak nilai sejarah yang terdapat di Candi tersebut. Menurut  masyarakat sekitar Manna Siregar dan Pinta Harahap, Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Portibi di tanah Batak merupakan kerajaan kuno yang sangat unik. Keunikannya terletak di berbagai segi. Keunikan itu misalnya dalam defenisi nama kerajaan tersebut; Portibi. Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. Jadi bila kita artikan Kerajaan Portibi secara leterleks maka berarti kerajaan dunia.
Untuk mencapai sistus budaya ini, wisatawan dapat menggunakan bus yang dapat menghantarkan langsung ke lokasi. Jarak tempuh dari Kota Padang Sidempuan sekitar 3 jam perjalanan, dengan jarak 82 km. Dan dari kota Medan sekitar + 450 km. Situs budaya ini telah mengalami pemugaran oleh dinas terkait. Wisatawan yang datang tidak hanya dari penduduk sekitar dan ada dari mancanegara. Umumnya mereka datang untuk melakukan penelitian tentang peninggalan sejarah kerajaan ini.
Bagindo Soripada warga setempat mengatakan, “Candi bahal ini sering dikunjungi oleh wisatawan ketika masa liburan tiba. Dan yang paling ramai ketika Hari Raya Idul Fitri, pengunjung membeludak mengunjungi tempat ini”. “Namun sayang bang, jalan dari gunung tua akses jalan dari pusat kota Padang Lawas Utara ke Candi ini sangat memperihatinkan sulit untuk kita lalui” ujarrnya mengakhiri.
Sisa peninggalannya masih dapat kita jumpai di sekitar lokasi, dan telah dibawa untuk dilakukan penelitian di Museum Negeri Sumatera utara di Medan.

Sumber : kreatifonline.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2012 in Sejarah

 

Tag: ,

Berwisata ke Danau Toba


Foto : Menatap Danau Toba (Eko Haryanto) 

 

 

 

 

 

 

Foto : Menatap Danau Toba

Medan- , Liburan panjang merupakan ajang rekreasi bersama keluarga dan teman-teman. Berkumpul dan bergurau bersama, mempererat rasa kedekatan dan persaudaraan. Biasanya dimusim liburan, banyak masyarakat Sumatera Utara mengunjungi objek-objek wisata, pusat jajanan kuliner, hingga pulang kampung.
Kebanyakan “Orang Medan” (sebutan khas bagi masyarakat Sumatera Utara- red) lebih bergengsi bila berlibur ke luar provinsi atau bahkan keluar negeri. Bagi anda yang suka jalan-jalan, nggak ada salahnya bila menjelajahi terlebih dahulu objek wisata di Sumatera Utara.
Provinsi Sumatera Utara dengan luas daratan 71.680 km², merupakan provinsi terbesar dan terluas di Pulau Sumatera.  Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan, hutan dan lahan yang subur merupakan tempat tinggal beraneka ragam satwa dan tumbuhan, baik yang liar maupun dilindungi.

Sumatera Utara juga terkenal dengan luas perkebunannya. Sejak penjajahan hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan yang dikelola BUMN maupun swasta.

Selain dari hasil perkebunan, Sumut juga terkenal dengan objek wisatanya. Salah satunya yang terkenal di dunia adalah Danau Toba. Danau  vulkanik tektonik purba terbesar di Indonesia, dengan panjang danau 87 km dari baratdaya ke tenggara dan lebar 27 km, lokasi ketinggian 904 meter di atas permukaan laut dan kedalaman maksimal 505 meter.  Danau Toba menjadi salah satu aset pariwisata yang penting bagi Indonesia. Bagi wisatawan domestik lokal maupun mancanegara yang berlibur di Sumut, kurang lengkap rasanya bila belum mengunjungi Danau Toba.

Selain Danau Toba, masih banyak lagi objek wisata di Sumut. Bahkan masih ada objek wisata yang belum  dikenal dan dikelola dengan baik. Seperti Danau Sidihoni di Kecamatan Pangururan- Pulau Samosir, Tangkahan di Kecamatan Batang Serangan- Kabupaten Langkat, Pemandian Air Soda di Kecamatan Tarutung- Kabupaten Tapanuli Utara, Candi Portibi di Kecamatan Portibi- Kabupaten Padang Lawas Utara, Istana Lima Laras Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Pantai Perjuangan di Kecamatan Medang Deras- Kabupaten Batubara dan banyak lagi objek wisata lainnya yang bisa kita kunjungi di Sumut.

Mengapa kita berlomba-lomba wisata ke luar negeri? Sementara pariwisata Indonesia belum kita nikmati dan dikunjungi, bahkan banyak bule mencintai pariwisata Indonesia karena keindahan alamnya. Dan memasukkan Indonesia dalam list perjalanan wisata mereka saat liburan, hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kekayaan alam Indonesia sangat potensial bagi pendapatan dan pemasukan negara.

Keindahan alam dan budaya Indonesia merupakan sumber kekayaan yang tak ternilai harganya merupakan anugerah Maha Kuasa, sebagai hadiah bagi yang mensyukurinya. Hal ini seharusnya kita jaga dan lestarikan agar terus bisa dinikmati dan diwariskan ke generasi berikutnya. Untuk itu perlu perlu perhatian khusus dari pemerintah mengenai pengembangan pariwisata. Bukan hanya dalam pembangunannya, akan tetapi pemeliharaannya harus dilakukan secara kontiniu. Dan bagi masyarakat sekitar tempat wisata dapat memanfaatkan keindahan alam menjadi sumber penghasilan sehari-hari dan bekerja sama dengan pemerintah untuk pemeliharaan dan kenyamanan pengunjung.

Marilah kita mulai dari diri kita sendiri, bangga akan kekayaan dan keindahan alam kita sendiri. Bersama-sama menjaga dan tidak merusak alam, bersikap ramah terhadap lingkungan, merawat tanaman, tidak mencorat-coret sembarangan, tidak merusak dan menebang pohon sembarangan, membuang sampah pada tempatnya dan membudayakan hidup sehat.

Sumber : Kreatifonline.com

penulis : Eko Haryanto

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2012 in Wisata

 

Tag:

Cerita perjalanan ke Bakkara


Wisata Sejarah Sebagai Wahana Penanaman Nilai Pendidikan

Medan  Saat ini banyak sekali objek wisata yang kita jumpai khususnya di Propinsi Sumatera Utara. Objek wisata ada yang bersifat alamiah ataupun non alamiah. Sebagai contoh yang alamiah adalah peninggalan bersejarah yang tidak secara sengaja pada saat ini bisa dijadikan sebagai tempat kujungan wisata. Kalau yang non alamiah adalah biasanya objek wisata yang dapat dibuat oleh tangan manusia misalnya air terjun buatan. Penulis tertarik menyampaikan informasi tentang apa itu sebenarnya wisata alamiah atau wisata sejarah sebagai contohnya.
Setiap daerah memiliki sejarah masing-masing dan bentuk-bentuk peninggalan yang beragam. Sejarah yang merupakan kejadian masa lalu dengan dasar penemuan bukti dan fakta sehingga memperkuat nilai-nilai kesejarahan suatu objek. Peninggalan-peninggalan sejarah sebagai warisan atau pusaka budaya yang dapat dibagi menjadi dua bagian yatiu artinya dapat disentuh (tangible) atau artinya tak dapat disentuh (intangible). Objek yang merupakan warisan masa lalu dari suku bangsa. Salah satunya adalah istana atau keraton sebagai salah satu bentuk objek pusaka budaya yang telah dimaksudkan. Istana dalam sejarah masa lalu bangsa Indonesia menyimpan cerita jayanya pula masa-masa tertentu.  Kerajaan-kerajaan dengan Istana ataupun keraton dahulunya memiliki kemandirian kedaulatan dalam beraneka takaran. Namun, saat ini harus disepakati bahwa keanekaragaman dan perbedaan di masa lalu itu harus dilihat dengan perspektif persatuan dan kesatuan. Pahit dan manisnya pengalaman berkerajaan itu hendaknya ditapis dengan seksama, sehingga semuanya itu tidak hanya menjadi pengetahuan, melainkan juga menjadi pelajaran dan sumber kearifan dalam kita menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia dewasa ini (Sedyawati, 1997).
Beranjak ke sekitar danau Toba dengan penduduk yang cukup padat. Daerah ini merupakan daerah merdeka dengan corak kebudayaan Batak yang penduduknya dipimipin oleh raja-raja. Raja merupakan penyangga tradisi menurut ketiruanannya dan menurut fungsinya sebagai tokoh di bidang hukum dan agama (Schereiner, 1978:43). Masyarakat Batak juga menyebutkan bahwa setiap keturunan orang Batak disebut sebagai Raja. Pada masa dulunya, orang Batak adalah penganut agama suku. Sistem pemerintahannya bersifat kerajaan yang demokratis. Setiap kampung merupakan kerajaan kecil yang berdiri sendiri. Memiliki rasa kekeluargaan yang tumbuh erat sehingga terpupuk solidaritas yang tinggi dan silsilah yang dapat dipelihara dengan baik. Di atas kerajaan-kerajaan kecil itu terdapat Raja Sisingamaraja sebagai pengikat yang merupakan kepala kerohanian dan keduniawian. Sisingamaraja yang sampai pada keturunan yang ke 12 diakui oleh suku Batak sebagai Datu Bolon (Imam Besar). Namun kondisi ini berakhir setelah Sisingamaraja XII tewas pada tahun 1907. Sisingamaraja XII merupakan pahlawan nasional dari Sumatera Utara yang memimpin perlawanan terhadap para misionaris dan pendobrak kekuasaan kolonial.

Setiap raja pasti memilki tempat untuk memimpin kekuasaan sebagai pusatnya. Begitu pula dengan Raja Sisingamaraja yang mempunyai  Istana. Tepatnya terdapat di Desa Lumban Raja Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Kompleks istana ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda dua dari kota Dolok Sanggul. Kompleks bangunan ini menempati sisi selatan dasar Lembah Bakkara, dan berjarak sekitat 2 kilometer dari tepi Danau Toba lingkunagan sekitar kompleks istana berupa persawahan dengan aliran Sungai Aek Silang yang bermuara ke Danau Toba.

Pada kompleks istana tersebut terdapat lima bangunan rumah adat, makam Sisingamaraja XI, dan juga Bale Pasogit (tempat ibadah Sisingamaraja). Namun, saat ini bangunan-bangunan tersebut telah megalami pembaharuan karena sejak lama kompleks istana ini berkali-kali mengalami penghancuran oleh pihak musuh. Di halaman depan deretan bangunan istana terdapat makam peesegi panjang yang terbuat dari semen. Makam tersebut berornamenkan Batak, terdapat juga ukiran bendera Kerajaan Sisigamaraja, cap Sisingamaraja dan prasasti beraksara Batak Toba. Di bagian luar (di sebelah utara) kompleks berpagar keliling itu, sekitar 20 meter di depan tugu Siraja Oloan dijumpai objek yang disebut masyarakat dengan Batu Siungkap-ungkapan yang merupakan objek berupa batu berdiameter 80-an cm yang juga merupakan salah satu dari sejumlah tanda keberadaan dan kebesaran Sisingamaraja. Selain itu, juga terdapat tempat yang dikaitkan dengan kesaktian Sisingamaraja XII, yaitu Aek Sipangolu. Berada sekitar 11 kilometer dari Muara, menempati lokasi di ketinggian sekitar 25 meter dari Permukaan Danau Toba, kita dapat memandang luas ke Tao Bakkara, Pulau Simamora, Air Terjun Binaga Janji dan juga Pulau Samosir. Menurut masyarakat setempat tentang cerita air Binanga Bibir ini muncul saat Sisingamaraja XII menancapkan tongkat sakti yang dimilkinya ke Hujur Siringis atau Hujur Sitonggo Mual ke permuakaan tanah punggung bukit. Kelak banyak orang yang percaya pada khasiat air dapat menyembuhkan, disebutlah dengan Aek Sipangolu yang berarti menyembuhkan/menyehatkan. Dilingkungan Aek Sipangolu juga terdapat sebuah batu yang terletak di bibir pantai Danau Toba, terdapat gambar telapak kaki gajah. Dalam mitologi Hindu, gajah merupakan kendaraan dewa Indra. Terkait dengan hal itu, dalam beberapa kesempatan diketahui bahwa penggambaran telapak kaki gajah merupakan simbol dari kekuasaan/kebesaran raja pada suatu wilayah. Selain itu, terdapat mata air yang masih trekait dengan keberadaan Sisingamaraja yaitu Aek Sitio-tio. Sumber air jernih yang dikatakan sebagai tempat mandi Sisingamaraja XII. Sekarang merupakan pemandian umum yang cukup ramai dikunjungi.

Kita ketahui bahwa selain sebagai wahana/objek pendidikan yang memberikan nilai penanaman sejarah, juga dapat sebagai tempat wisata. Panaroma keindahan di sekitar alam Danau Toba ternyata terdapat banyak sejarah yang selama tidak kita ketahui. Paradigma yang hangat-hangatnya terjadi adalah tentang pendidikan moral yang hampir hilang. Diharapkan pendidikan saat ini mampu memberikan gambaran berupa efek nilai-nilai positif terhadap perkembangan psikologis. Adanya wisata-wisata sejarah mampu memberikan dan menyampaikan pesan moral terhadap kejadian-kejadian masa lalu, sehingga pengunjung dihadapkan pada pilihan hidup dan pemahaman betapa pentingnya kejadian masa lalu. Ternyata sekarang ini yang banyak mengunjungi tempat-tepat peninggalan sejarah adalah dari kalangan siswa yang dibawa guru-guru bidang studinya dengan harapan peserta didik yang dibawanya mampu memahami makna-makna peninggalan masa lalu yang penuh perjuangan hingga kita bisa menikmati kemerdekaan sast ini. Penyampaian jalan cerita tentang peristiwa masa lalu, membuat kita berpikir bahwa ternyata perjuangan bangsa sebelum kita begitu besar dan dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan hak-hak negeri ini. Setelah kita ketahui bagaimana orang-orang di masa lalu memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan demi kemajuan seperti dewasa ini. Maka, sebagai bangsa yang yang memiliki nilai-nilai sosial tinggi marilah kita jadikian sejarah sebagai tonggak masa kini demi tumbuh kembang bangsa dan negara ini. Dengan mengingat sejarah kita sendiri akan mengerti betapa sangat berartinya sejarah bagi kehidupan kita.

Penulis : Nasria Husni

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2012 in Bakkara

 

Tag: ,

Nahusomba hami, Debata Mula Jadi Nabolon


HUTAN/TOMBAK Sulu-sulu yang berlokasi di Bakkara, kiranya menjadi tempat momentum bagi ikhwal mulanya kelahiran Si Singamangaraja; diyakini Parmalim sebagai Nabi dalam Ugamo Malim (kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa). M.A. Marbun – I. M. T. Hutapea dalam Kamus Budaya Batak Toba, Balai Pustaka 1987, halaman 167 menyebutkan, Tombak Sulu-sulu sebagai tempat keramat.

 Tertulis dalam kamus Budaya Batak Toba, kisah ajaib kelahiran Si Singamangaraja, bermula kala Ibu Boru Pasaribu, isteri Raja Bona ni Onan Sinambela, didatangi oleh seorang Malaikat Mulajadi na Bolon. Sebuah berita disampaikan, tak lama lagi Ibu Boru Pasaribu akan mengandung seorang bayi selama 20 bulan. Dia bukan berasal dari benih laki-laki, melainkan dari Roh Allah. Mulajadi na Bolon pun meminta agar bayi diberi nama Si Singamangaraja. Kelak dia akan menjadi raja di Bakkara. Kerajaan serta hukum-hukumnya akan menjadi teladan bagi seluruh kerajaan di Tanah Batak.

Raja Bona ni Onan Sinambela yang kala itu sedang mengembara, tak mau percaya begitu saja pada Ibu Boru Pasaribu. Baginya, mustahil seorang perempuan hamil tanpa persetubuhan. Sang isteri dituduh berselingkuh. Keraguan Raja Bona ni Onan Sinambela pun terpecahkan. Lewat sebuah mimpi pada suatu malam, dia didatangi roh yang menjelaskan, bayi dalam kandungan isterinya adalah titisan roh Batara Guru, kelak menjadi raja bergelar Si Singamangaraja. Bayi lahir saat berusia 20 bulan. Giginya telah lengkap. Kelahirannya bahkan disambut oleh suara guruh dan petir yang berdentum, bersahut-sahutan sepanjang hari. Bayi diberi nama Manghuntal.

Sitor Situmorang dalam bukunya Toba Na Sae, Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX, cetakan kedua, 2009 halaman 61 pun mengisahkan pengalaman Manghuntal, hingga dinobatkan menjadi Si Singamangaraja I; inkarnasi Batara Guru. Konon demi memperoleh pengakuan akan kesaktian yang dimilikinya untuk menjadi raja, Manghuntal melakukan perjalanan menyeberangi samudera (lewat Barus) ke suatu pulau, tempat Raja Mahasakti (Raja Uti) bernama Pulo Na Marsahala, kemudian kini dikenal dengan nama Pulau Mursala. Tujuannya adalah meminta seekor gajah putih. Singkat cerita, Raja Uti bersedia memberi Gajah Putih yang diminta, asalkan syaratnya Manghuntal harus mengumpulkan dan membawa sejumlah pertanda, dari berbagai wilayah Toba sebagai bukti kelayakannya menjadi raja. Manghuntal kembali ke Toba, mengumpulkan pertanda yang diminta. Raja Uti pun mengabulkan permohonan Gajah Putih. Dia juga memberikan Manghuntal sejumlah barang pusaka, diantaranya sebilah keris keramat. Sewaktu upacara penobaatan di Bakkara, Manghuntal menempuh ujian penting, mencabut keris bernama Piso Gaja Dompak (Pisau Gajah Penangkal). Dia berhasil dan dinobatkan menjadi Sisingamangaraja I.

Kelahiran ajaib dan kesaktian Si Singamangaraja inilah yang dipercayai Parmalim sebagai Nabi dalam Ugoma Malim, hingga saat ini. Kata Parmalim terdiri atas dua suku kata, par dan malim. Par dalam bahasa Batak Toba merupakan awalan aktif yang berarti orang yang mengerjakan atau menganut sesuatu. Malim sendiri berasal dari kata bahasa masyarakat di pesisir pantai, yang beragama. Mengacu pada Kamus Budaya Batak Toba, halaman 130, Parmalim adalah suatu sekte agama Batak. Gerakan ini dimulai setelah gugurnya Raja Si Singamangaraja XII, dipimpin oleh Raja Mulia Naipospos (salah satu bekas panglima Si Singamangaraja XII) di Huta Tinggi, Laguboti. Pengikut Parmalim memuja Raja Si Singamangaraja. Gerakan Parmalim mengandung cita-cita kebangsaan menentang kolonialisme.

Parmalim dalam kepustakaan disebut juga mesianisme (pengharapan akan munculnya mesiah, yaitu Si Singamangaraja yang telah tewas). Sebelumnya Parmalim dipelopori oleh Guru Somaliang Pardede, kala Si Singamangaraja masih hidup sekitar 1890.

Pimpinan Pusat Parmalim Hutatinggi, Raja Marnangkok Naipospos selaku Raja Ihutan Parmalim, menggambarkan sosok Si Singamangaraja sebagai seorang pengembala dan pengasuh.

“Dia seorang pemimpin yang menggembala di rumah, seorang pengasuh ketika berada diluar,” katanya kepada analisa, Kamis (14/7).

Maksudnya, Raja Marnangkok Naipospos ingin mengatakan, peliharalah stafmu, awasi, cambuk dan jangan neko-neko serta ayomi masyarakat. Seorang pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri, tak layak disebut pemimpin, tapi pimpinan pinjaman. Karakter kepribadian Si Singamangaraja itulah yang diselami Raja Marnangkok dalam memimpin para penganut Parmalim selama 30 tahun ini. Paling tidak mempertahankan ajaran-ajaran dalam kelangsungan hidup di Hutatinggi, Lagu Boti.

Sipahalima yang (tak) Terlupakan

Salah satunya adalah ritual Sipahalima, ritual syukuran kepada Mulajadi na Bolon. Dilaksanakan setiap bulan kelima pada kalender Batak, atau sekitar Juli – Agustus menurut bulan masehi. Biasanya ritual ini jatuh pada hari ke 12, 13, dan 14 menjelang bulan purnama. Persis yang diamati analisa kala berkunjung ke Hutatinggi, Lagu Boti pada Kamis (14/7) lalu. Umat telah berkumpul sehari sebelum ritual puncak Sipahalima dilangsungkan pada Jumat (15/7). Balai dan gedung dua lantai yang berada di sekitar pusat kegiatan Sipahalima pun telah penuh terisi para penganut Parmalim yang datang dari seluruh Indonesia. Menariknya, antara lelaki dan perempuan tidur secara terpisah. Sekalipun bagi yang sudah berumah tangga. Para lelaki tidur di kamar-kamar yang berada di lantai dua, sedangkan kamar-kamar di lantai pertama (bawah) diinapi oleh para ibu dan anak-anaknya. Selama berada di dalam wilayah kegiatan Sipahalima berlangsung (di Bale Pasogit Partonggoan), siapapun tanpa terkecuali diwajibkan menggunakan sarung. Tak pandang bulu, muda, tua, lelaki pun perempuan harus bersarung disana.

Diungkapkan Raja Ihutan Parmalim, Sipahalima adalah ritual untuk mengucapkan syukur atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi na Bolon. Sipahalima sering juga disebut sebagai upacara syukur atas panen. Pelaksanaan ritual ini pun tidak membentuk panitia secara khusus, hanya kesadaran umat untuk berperan dalam kelangsungan Sipahalima. Persiapan upacara ini dibantu oleh para Ulu Punguan dan Suhi ni Ampang na Opat untuk pemilihan hari yang tepat, hingga ke penutupan upacara. Ihutan yang ada di pusat akan memberitahukan kepada seluruh Ulu Punguan tentang pelaksanaan upacara dan Ulu Punguan akan memberitahukan kembali kepada seluruh Parmalim pada saat melakukan parpunguan setiap hari Sabtu, baru persiapan ritual dilakukan.

Sejak Jumat (15/7) pagi, kesibukan mulai terlihat di lokasi pelaksanaannya ritual Sipahalima (komplek Bale Pasogit Partonggoan). Tanpa perintah, masing-masing umat tahu apa yang harus mereka kerjakan. Hal ini terlihat pada struktur Parhobas Sipahalima Huta Tinggi, Lagu Boti yang ditempel di tiap dinding. Adapun yang menjadi Koordinator Parhobasan Sipahalima 2011 adalah Gr. Dimpu Simanjuntak, Membawahi bagian konsumsi, bagian sarana/peralatan, bagian tempat kebersihan. Termasuk di dalamnya ada juga yang bertugas sebagai seksi dapur; masing-masing tiga orang dari kelompok ama (bapak) dan ina (ibu), Khusus untuk menyiapkan pelean (persembahan), ada sebanyak empat orang. Persis yang diamati analisa, kesibukan pagi itu terlihat jelas disana. Mulai menyiapkan langgatan (altar), pelean (persembahan), hingga memandikan lembu hitam sebagai kurban persembahan. Lembu hitam yang dimaksud bukan sembarang kerbau/lembu. Setidaknya kerbau/lembu harus memiliki empat undur-undur atauy disebut pisoran.

Tonggo Bagi yang Kuasa

Batara Sangti (Ompu Buntilan) dalam buku Sejarah Batak terbitan Karl Sianipar Company, halaman 386 menuturkan, pada waktu Mangalahat harbo (Upacara kurban kerbau untuk memuja roh leluhur), kerbau jantan sibundar tanduk-mempunyai empat pusaran dan berbulu pendek rapat (Sitingko tanduk-siopat pusoran-sisomat imbulu). Kerbau ditarik dari kolong rumah memasuki gelanggang dengan kepala yang dihiasi mare-mare (daun enau). Kerbau yang diarak oleh orang ramai, dirayu oleh sang Datu dengan nyanyian merdu bersanjak-sanjak, supaya ikhlas dan tunduk. Setelah memasuki gelanggang, kerbau diikat dan ditambat ke tonggak kayu borotan (tiang persembahan). Istilah Mangalahat harbo di Baligeraja disebut juga sebagai Mangalahat harbo santi di bulan sipahalima.

Langgatan terbuat dari bambu setinggi satu meter. Dihiasi dengan kain putih dan mare-mare serta bunga-bungaan. Tampak juga tiang sitolu rupa, yakni tiga buah bendera berwarna putih, merah dan hitam. Ini lambang dari Debata na Tolu, tiga wujud kuasa Mulajadi na Bolon; Batara Guru, Sori Haliapan dan Bala Bulan. Pelean yang dipersembahkan dalam ritual ini, antara lain daupa (asap kemenyan) dan aek pangurason (air suci pengurapan). Selain itu ada beras, ihan (ikan khas orang Batak), telur ayam, timun, daun sirih, daun kemangi. Daupa dan aek pangurason sebagai alat untuk mengurapi atau menyucikan pelean yang disajikan, termasuk menyucikan umat parmalim sebelum dan sesudah ritual dilangsungkan.

Ritual puncak Sipaha Lima dimulai usai kegiatan makan bersama pada pukul 12.00 WIB. Itu pun terbagi dua sesi, pertama perempuan dan anak-anaknya yang lebih dahulu makan, baru dilanjutkan oleh para lelaki. Kala jarum jam menunjuk pada angka satu (13.00 WIB), perhelatan ritual pun dimulai. Para ama, ina dan naposo bulung (muda-mudi) mengambil tempat masing-masing. Mereka mengenakan pakaian adat. Simbol-simbol yang muncul dalam perwujudan fisik para penganut Parmalim berbeda satu sama lain. Kaum laki-laki yang sudah berkeluarga mengenakan tali-tali (sorban) berwarna putih, sarung dan jas berselempang ulos. Pria lajang mengenakan sarung dan baju biasa berselempang ulos. Kaum wanita mengenakan sarung bermotif batik, kain kebaya, ulos dan wajib menggunakan sanggul toba (gulungan rambut ke dalam) sebagai warisan perempuan Batak ratusan tahun lalu.

Raja Ihutan Parmalim menghadap altar, dibelakangnya, berdiri kelompok ina paniaran dan kelompok ama mengelilingi langgatan. Raja Ihutan pun meminta kepada pargonci untuk memainkan gondang. Sepuluh doa (tonggo-tonggo) pun dipersembahkan dalam ritual, ditujukan kepada Ompung Debata Mulajadi na Bolon, Tuhan Debata na tolu, Siboru Deak Parujar, Naga Padoha ni Aji, Siboru Saniang Naga, Patuan Raja Uti, Tuhan Simarimbulu Bosi, Raja Naopat-pulu Opat, Raja Sisingamangaraja dan Raja Nasiak Bagi. Gondang dimainkan, doa dipanjatkan, begitu berulang. Umat mengadahkan tangan ke atas, seolah menyerahkan diri. Ikhlas. Para ama dan ina juga menortor mengelilingi langgatan. Menaburkan beras dan memercikkan air kepada para ama dan ina yang dilakukan Raja Ihutan termasuk bagian dari prosesi ritual. Gondang yang melagu terdengar seperti panjatan doa-doa bagi Sang Pencipta. Tepat pukul 17. 00 WIB, ritual Sipaha Lima pun usai. Sebelumnya lembu jantan berwarna hitam tadi diarak ke tempat penyembelihan sebagai kurban. Setelah dimasak, seluruh umat Parmalim makan bersama. Horas, horas, horas….

Penulis : Adelina Savitri Lubis

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2012 in Bakkara

 

Tag: ,

Pendiri Twitter Bilang, Jangan Kebanyakan Ngetweet


California – Berapa kali dalam sehari Anda “berkicau”? Kalau kegiatan di layanan mikroblogging ini menyita waktu Anda selama berjam-jam, sebaiknya perhatikan peringatan dari pendiri Twitter, Biz Stone, berikut ini.

Dalam sebuah konferensi Fortune Brainstorm Tech di Pasadena, California, Direktur Kreatif Twitter ini menyatakan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngetwit jelas tidak baik. “Bagi saya, itu tidak sehat,” katanya seperti dikutipTelegraph, Minggu, 25 Februari 2012.

Menurut dia, situs jejaring sosial dengan lebih dari 500 juta anggota ini mulai membuat sebagian penggunanya overdosis atau kecanduan. Akibatnya, menurut Stone, ada yang “memelototi” akunnya selama lebih dari 12 jam.

Bahkan ada pula yang protes kepada Twitter untuk menambah jumlah postingan agar lebih dari 140 karakter. Menurut mereka, kapasitas yang terlalu sedikit ini justru memicu orang untuk terus-terusan ngetwit.

Tapi bagi Stone, itu bukan alasan. Dia menyarankan supaya “tweeps” secara bijak memakai layanan yang dibuatnya itu, misalnya untuk mencari informasi, dan jika sudah mendapatkannya, mereka kemudian mengerjakan aktivitas lain.

Namun Stone mengaku senang dengan semakin banyak orang yang memiliki kedekatan dengan layanan jejaring sosial buatannya itu. “Di situ Anda akan menemukan apa yang dicari dan belajar sesuatu,” ujar pria 37 tahun ini.

“Saya tentu ingin keterikatan yang terjalin antara Anda dan Twitter menjadi hubungan yang sehat,” katanya.

Saat pertama kali meluncurkan Twitter, Stone justru memprediksi layanan ini akan gagal total karena menurut dia, itu tidak berguna. “Tak pernah ada yang menyangka bahwa Twitter adalah sebuah ide bagus,” katanya. Tapi waktu itu Evan Williams, kolega Stone, membesarkan hatinya.

“Wlliams mengatakan, ‘ibaratnya Twitter itu es krim, apakah kita akan melarang orang memakannya atau kita bisa memberikannya karena itu menyenangkan? Lalu apa yang salah dengan Twitter’,” Stone berkisah.

Sumber : TEMPO.CO, minggu 26 februari 2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 26, 2012 in Berita

 

Tag:

Kebaktian Agung dan Rapat Musyawarah Datu Tala Ibabana Simanullang di Bakkara


Keturunan Datu Tala Ibabana Simanullang sedunia akan menyelenggarakan Kebaktian Agung (Partangiangan Bolon) dan Rapat Musyawarah di Simangulampe, Bakkara, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, pada tanggal 3-4 Juli 2009.

Momentum Kebaktian Agung tersebut juga akan ditandai dengan pemugaran sumber mata air Datu Tala Ibabana di Bakkara, rapat musyawarah mendirikan Yayasan Datu Tala Ibabana (Tala Foundation) dan memilih dan melantik Pengurus Punguan Datu Tala Ibabana Sedunia.

Menurut Ketua Umum Panitia Pusat St. M. Manullang, MM, MBA di Jakarta (8/6) kebaktian agung tersebut dimaksudkan agar semua keturunan Datu Tala Ibabana selalu (semakin) diberkati Tuhan, hidup lebih bersatu, damai sejahtera dan berperan lebih banyak, lebih besar dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara, bahkan demi damai sejahtera dunia.

Adapun tema Kebaktian Agung dan Rapat Musyawarah Datu Tala Ibabana ini adalah “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama denga rukun.” (Mazmur 133:1). Dan Subtema: “Supaya kamu seiasekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Korintus 1:10b). Kebaktian Agung akan dilakukan dengan tatacara oikumenis yang dipimpin pastor dan pendeta dari gereja-gereja yang ada di Sumatera Utara.

Puncak acara Kebaktian Agung ini akan dihadiri 1.100 kepala keluara keturunan Datu Tala Ibabana dari seluruh Indonesia dan dari beberapa negara. Para perantau yang bermukim di seluruh Indonesia dan luar negeri sudah mengonfirmasi kepada panitia tentang kehadiran mereka.

Sekretaris Umum Panitia Pusat Drs Ch. Robin Simanullang menjelaskan bahwa pengorganisasian dan penatalaksanaan Kebaktian Agung dan Rapat Musyawarah ini sudah dilakukan selama lebih satu tahun. Selain membentuk Panitia Pusat di Jakarta, juga dibentuk Panitia Sumatera Utara yang diketuai didampingi Penasihat Drs. Misa Simanullang (Ompu Lamboi) serta dilengkapi dengan kordinator-kordinator di setiap kabupaten. Sementara di beberapa wilayah lainnya panitia mendayagunakan punguan (organisasi kekerabatan) atau arisan keluarga Datu Tala Ibabana setempat.

Kepada keturunan Datu Tala Ibabana Simanullang yang belum memperoleh undangan dapat menghubungi Panitia Pusat di Jakarta dengan telepon 021-32195353 dan 0811123576. Atau Ketua Panitia Sumatera Utara di Medan Marangkup Simanullang,SH (HP 08127031134) atau Wakil Ketua Tala Simanullang, SE (HP 081376872862).

Sejarah

Datu Tala Ibabana adalah cucu (generasi ketiga) dari Simanullang dan cicit (generasi keempat) dari Si Raja Oloan. Dalam dokumen asal-muasal Batak (Silsilah Si Raja Batak), Si Raja Oloan adalah generasi kelima dari Si Raja Batak. Si Raja Batak mempunyai dua anak yakni: Guru Tatea Bulan (Si Boru Baso Burning) dan Raja Isumbaon (Si Anting Haomasan). Raja Isumbaon mempunyai tiga anak yakni: Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang.

Tuan Sorimangaraja mempunyai tiga anak yakni: Naiambaton, Nairasaon dan Naisuanon (Si Boru Sanggul Haomasan) yang juga bergelar Tuan Sorba Dibanua. Tuan Sorba Dibanua mempunyai delapan anak dari dua isteri. Lima anak dari isteri Boru Borbor (Sibagot Ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan, Si Raja Oloan dan Si Raja Hutalima). Tiga anak dari Boru Sibasopaet (Toga Sumba, Toga Sobu dan Naipospos).

Si Raja Oloan mempunyai enam anak dari dua isteri. Dua anak dari Boru Limbong Mulana (Naibaho dan Sihotang, lahir di Pangururan, Samosir). Empat anak dari Boru Borbor (Bakkara, Sinambela, Sihite dan Simanullang, lahir di Bakkara). Toga Simanullang mempunyai tiga anak dari dua isteri yakni Tuan Delimang, Pamuharaja (Raja Panguhalan) dan Datu Napasang. Pamuharaja mempunyai empat anak yakni Juara Toba, Raja Ijolma, Datu Tala Ibabana, dan Bona ni Aek. Datu Tala Ibabana mempunyai lima anak yakni tiga lahir di Bakkara (Guru Sinanti, Datu Soulangon, Tuan Mauli); dan dua lahir di Rianiate, Samosir (Sihat Raja dan Sinta Raja).

Datu Tala Ibabana, yang merupakan cucu dari Simanullang dan cicit dari Si Raja Oloan, bukan orang pertama memakai gelar sakti itu. Dari dokumen orang-orang sakti Batak dan Silsilah Si Raja Borbor, orang pertama memakai gelar Datu Tala Ibabana adalah Tuan Raja Doli, cucu dari Si Raja Borbor dan anak dari Tuan Balasahunu. Tuan Raja Doli adalah ayah dari Datu Rimbang Saudara (Datu Dalu) dan kakek dari Datu Pompang Balasaribu. Datu Pompang Balasaribu adalah kakek dari Lubis, Pasaribu, Batubara dan lain-lain.

Jadi gelar Datu Tala Ibabana Simanullang sangat mungkin diwariskan dari hulahula ni Si Raja Oloan yakni keturunan Si Raja Bobor dan Tuan Raja Doli antara lain Lubis dan Pasaribu.

Datu Tala Ibabana aalah seorang yang sakti, tabib dan imam pada zamannya. Dia pemimpin spiritual yang sangat dekat dengan tuhannya (Debata Mulajadi Nabolon), sesuai kepercayaan Batak kala itu. Sebagai seorang tabib dan imam, ucapan-ucapannya sangat bermakna relijius yang bisa menyembuhkan orang sakit dan membuat orang percaya dan berbakti kepada Debata Mulajadi Nabolon kala itu. Jika dipadankan dengan pengertian agama samawi (Jahudi, Kristen dan Islam), Datu Tala Ibabana bisa disebut sebagai imam, alim-ulama atau pendeta, bahkan mungkin seorang nabi atau rasul pada zamannya atau sekurang-kurangnya pemimpin doa (kebaktian) atau gembala sidang pada masa kini.

Datu Tala Ibabana, dengan kesaktiannya, sering berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan, konon, bisa berkelana dalam hitungan tahunan di negeri orang. Sehingga oleh dua orang saudaranya, Juara Toba dan Bona ni Aek, mengiranya sudah meninggal di negeri orang. Maka adiknya Bona ni Aek memasukkan ‘tagan’ (tempat tembakau) abangnya Juara Toba ke ‘hajut’ (semacam tas) isteri Datu Tala Ibabana. Hal ini dalam tradisi Batak bermakna bahwa Juara Toba dengan anggiboru-nya sudah bersehati (diabia).

Padahal, tidak berapa lama kemudian, Datu Tala Ibabana kembali dari perjalanannya yang lama dan panjang. Wajar saja dia sangat kecewa dan marah mendapati isterinya diabia (dinikahi) kakak kandungnya sendiri. Abangnya Raja Ijolma, yang sejak awal masih meyakini adiknya Datu Tala bakal kembali dan tidak menyetujui langkah Juara Toba dan Bona ni Aek, bersepakat untuk hidup sepenanggungan dan tidak lagi sepenanggungan (tidak lagi marsianggoan timus) dengan Juara Toba dan Bona ni Aek. Sementara Juara Toba dan Bona ni Aek, yang tentu merasa bersalah, pergi meninggalkan Bakkara menuju perbukitan yang kemudian dikenal sebagai Pearaja-Matiti dan Huta Gurgur, di negeri yang juga kemudian dinamai Simanullang Toba.

Cukup lama keturunan Pamuharaja (empat bersaudara) ini tidak lagi sepenanggungan, terbagi dua kelompok: Pomparan Raja Ijolma marpadan (bersepakat) dengan Datu Tala dan tidak bersatu lagi dengan Pomparan Juara Toba dan Bona ni Aek. Namun atas inisyatif keturunan Juara Toba dan Bona ni Aek, yang menyadari kesilapan nenek-moyangnya, diadakan pesta adat partangiangan sebagai permohonan maaf kepada saudaranya keturunan Datu Tala dan Raja Ijolma, sekitar tahun 1950-an. Uluran tangan permohonan maaf dan perdamaian ini disambut hangat keturunan Datu Tala dan Raja Ijolma, yang juga dihadiri para penetua Si Raja Oloan.

Sejak itu, padan tidak lagi marsianggoan timus, diakhiri. Keturunan keempat bersaudara itu kembali bersatu sepenanggungan dalam kasih dari Tuhan. Persatuan dalam kasih ini, tidak lagi mencari siapa yang salah, tetapi lebih melihat ke depan dalam persaudaran demi kemajuan bersama. Hal ini memungkinkan terjadi, terutama setelah kekristenan telah menggantikan kepercayaan lama Batak, termasuk keturunan Pamuharaja Simanullang.

Pomparan Datu Tala Ibabana yang sudah beriman (mayoritas) kepada Jesus Kristus, dan yang secara kontemporer dan kontekstual memahami eksistensi dan peran Datu Tala Ibabana pada zamannya, baik secara naluri dan akal sehat (rasional), telah terdorong untuk mengaplikasikan peran Datu Tala Ibabana itu di tengah masyarakat dalam berbagai bidang kegiatan dan profesi. Tentu tidak dalam kepercayaan (relijius dan spiritual) animisme-dinamisme kepada Debata Mulajadi Na Bolon (agama tradisi Batak), tetapi dalam kepercayaan agama samawi, terutama (mayoritas) kepercayaan Kristen.

Sudah banyak pomparan Datu Tala mengambil peran yang memberi manfaat bagi sesama sebagai garam dan terang dunia dalam profesi dan kegiatan masing-masing. Salah seorang adalah Almarhum MH Manullang, yang lebih dikenal dengan gelar Tuan Manullang, seorang pejuang yang mendirikan dan memimpin suratkabar Soara Batak yang terbit 1919-1932 di bahwah naungan Hatopan Batak Kristen.

Kerinduan
Sesuai perkembangan zaman, ada kerinduan kiranya Pomparan Datu Tala Ibabana selalu (semakin) diberkati Tuhan, hidup lebih damai sejahtera dan berberan lebih banyak, besar dan berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan demi damai sejahtera dunia.

Kerinduan ini, telah mendorong Pengurus Punguan Datu Tala Ibabana Se-Jabodetabek untuk mengajak seluruh Pomparan Datu Tala di seluruh dunia, terutama se-Indonesia, untuk bersatu hati dalam Pesta Bolon Partangiangan (Kebaktian Agung) dan Rapat Musyawarah yang akan diselenggarakan di Bakkara, Humbang, Sumatera Utara, sekitar 3-4 Juli 2009.

Dalam rangkaian Kebaktian Agung ini, juga akan ditandai pemugaran mata air (Homban) Datu Tala Ibabana di Bakkara. Pemugaran homban (mata air) ini lebih bermakna tanda (bukti) sejarah yang diharapkan berguna bagi generasi muda dan generasi berikutnya dalam memahami asal-usul, eksistensi dan jati diri sebagai seorang Batak (pomparan Datu Tala Ibabana bermarga Simanullang) yang beragama (samawi) dan berbudaya di tengah pergaulan dunia modern dan mengglobal.

Memahami keberadaan dan peran Datu Tala Ibabana secara kontekstual dan kontemporer sebagai seorang tokoh, tabib, ulama, rohaniawan dan pejuang pada zamannya masing-masing. Hal mana ini berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia. “Dalam kaitan ini diperlukan sebuah wadah yang diharapkan bisa berperan dalam pengorganisasian, pengembangan dan pendayagunaan SDM dan berbagai potensi keturunan Datu Tala Dibabana yakni dengan mendirikan Yayasan Datu Tala Ibabana,” kata Sekretaris Umum Panitia Pusat Drs. Ch. Robin Simanullang.

Sumber :www.rilispers.com

8 juni 2009

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2012 in Bakkara

 

Tag:

Jejaring Sosial ‘Curi’ Data Kontak Pengguna


Jejaring sosial Twitter 

Data diambil dari smartphone, tanpa sepengetahuan pengguna.

 – Jejaring sosial Twitter mengaku mengkopi data pelanggan yang tersimpan di server mereka. Data yang dimaksud adalah buku telepon yang tersimpan di smartphone, dan ini dikopi tanpa sepengetahuan pengguna Twitter.

Akses ke buku alamat ini tersedia saat pengguna mengklik “Find Friends”, fitur pencari teman yang ada di aplikasi smartphone. Atas masalah ini, Twitter mengatakan akan memperbaiki kebijakan privasi ini. Dengan demikian, pengguna akan mengetahui dan memiliki pilihan.

“Kami ingin agar semuanya jelas dan transparan dalam komunikasi kami dengan pengguna. Sesuai garis tersebut, kami akan memperbaiki bahasa yang terasosiasi dengan Find Friends–agar lebih eksplisit,” kata juru bicara Twitter, Carolyn Penner.

Sebelumnya, dua anggota Kongres Amerika Serikat telah mengajukan surat kepada Apple terkait masalah ini. Mereka bertanya, kenapa Apple mengizinkan praktek kopi data tanpa sepengetahuan pelanggan ini di perangkat mereka, iPhone.

Praktek kopi data seperti ini pertama kali terungkap saat pengembang aplikasi asal Singapore, Arun Thampi, mengeluhkan soal ini di situsnya. Saat itu, Arun menggunakan media sosial Path.

CEO Path, Dave Morin kemudian mengakui dan meminta maaf. Selanjutnya, Path akan memperbaiki ini dan memberikan pilihan kepada penggunanya untuk share informasi nomor kontak.

Tak hanya itu, sejumlah aplikasi sosial di iPhone, termasuk Facebook, FourSquare, dan Instagram, juga dikabarkan memiliki akses ke nomor kontak di smartphone penggunanya. Facebook kemudian mengatakan akan memperbaiki aplikasi itu dan memberikan opsi pilihan.

Sejumlah kritik kemudian bermunculan, yang juga dialamatkan kepada Apple. Apalagi Apple memiliki panduan bahwa aplikasi yang melakukan praktek semacam itu akan ditolak. (BBC, umi)

Sumber : • VIVAnews

Jum’at, 17 Februari 2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2012 in Berita

 

Tag: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.451 pengikut lainnya.