RSS

Mengenang Kapal Yang Tenggelam Usai Pesta Danau Toba Tahun 1997

17 Okt

[washinton simbolon; blog berita; kasus peldatari]

Adikku tak jadi korban karena ketinggalan bonekanya.

Mendengar kata Peldatari, sangat mungkin orang akan langsung terkenang pada musibah di tahun 1997 itu; ketika sebuah kapal bernama Peldatari tenggelam usai Pesta Danau Toba dan mengakibatkan hampir 100 nyawa melayang. Berikut ini adalah kisah yang ditulis Washinton Simbolon, salah seorang warga Samosir yang ikut menonton Pesta Danau Toba. Washinton kini tinggal di Jakarta, bekerja sebagai konsultan ekonomi dan mengajar di beberapa kampus.

SEPERTI BIASA DAN sudah menjadi kegiatan tahunan, puncak acara pesta Danau Toba diadakan di kota turis Parapat, Danau Toba. Perhelatan tersebut selalu ditunggu masyarakat yang umumnya bertempat tinggal di sekitar Danau Toba, warga Simalungun dan Tapanuli Utara, yang umumnya kaum muda.

Tujuan orang-orang datang ke sana bermacam-macam, ada yang mau mencari hiburan dengan berbagai jenis pertunjukan, mencari jodoh, jual tampang, berkencan dengan kekasih, atau menjadikannya sebagai momen untuk mengekspresikan penampilan terbaik yang dimiliki, walau terkadang agak memaksa. Tetapi yang pasti tujuan utama para pengunjung adalah untuk menyaksikan penampilan artis-artis ibukota, baik artis Batak maupun non-Batak.

Artis Batak senior Bunthora Situmorang yang tak lain adalah kakak kandung penulis di Blog Berita Batak News ini, Suhunan Situmorang, yang saya panggil “tulang”, bertahun-tahun menjadi ikon dan daya tarik pesta tersebut. Demikian halnya dalam Pesta Danau Toba Juli 1997, sepuluh tahun silam. Penyanyi kebanggaan masyarakat Pangururan dan Samosir ini tampil lagi pada malam puncak acara. Orang-orang sudah tahu sebelumnya dan karena itulah berduyun-duyun ke Parapat, yang bila dari sekitar Samosir dan desa-desa di pinggir Danau Toba akan menumpang kapal kayu bermesin.

Malam penutupan pesta itu langat amat cerah. Artis-artis Batak ibukota silih berganti mengumandangkan lagu dan menampilkan kemampuan terbaik mereka untuk menghibur ribuan penonton, mulai dari yang bernada andung-andung (kesedihan), dangdut versi Batak, hingga lagu-lagu bernada lengking yang dinyanyikan trio-trio Batak. Trio Ambisi juga turut menghibur malam itu, sekaligus peluncuran album terbaru mereka. Massa hiruk pikuk, orang-orang lalu-lalang dan berdesakan. Riuh gemuruh tepuk tangan laksana masyarakat Jerman di zaman dulu yang sedang mendengarkan pidato pemimpin Nazi.

Sekitar pukul 1.00 dinihari, “lagu kebangsaan” orang Batak berjudul ‘O Tano Batak’ dinyanyikan secara serentak oleh seluruh artis sebagai pertanda berakhirnya acara. Massa pun bubar dan bergegas menuju angkutan masing-masing. Ada yang menuju kendaraan pribadi maupun angkutan umum, ada yang lewat darat (umumnya pengunjung dari sekitar Siantar, Porsea sampai Tarutung), ada yang harus melintasi danau, yakni warga par bariba tao (seberang danau). Mereka menuju kapal masing-masing dengan tujuan Haranggaol, Tomok, Simanindo, Nainggolan, Pangururan, Silalahi, dan yang lainnya.

Saya dengan sobat bermarga Naibaho yang sama-sama berangkat dari Medan menuju Parapat sehabis ujian semester khusus untuk menyaksikan malam puncak pesta, turut bergegas menuju kapal. Pada malam itu ada sebuah kapal menuju Pangururan langsung dari Parapat. Ada juga kapal yang berangkat dari pelabuhan Ajibata menuju Tomok, selanjutnya penumpang bisa meneruskan perjalanan ke Pangururan dengan angkutan umum.

Kami berdua bermaksud pulang dengan menumpang kapal yang berangkat dari pelabuhan Ajibata. (Parapat, Tigaraja, Ajibata, semuanya di tepi Danau Toba dan masing-masing bertetangga walau berbeda kabupaten. Parapat-Tigaraja masuk kab. Simalungun, sementara Ajibata masuk kab. Tobasa). Saat berjalan menuju pelabuhan Ajibata, di dekat pelabuhan Parapat, kami dengar suara dadu janggar-janggar (permainan judi iseng-iseng) dari kapal yang akan berangkat langsung menuju Pangururan. Bunyi permainan tersebut membelokkan hasrat kami sehingga tak jadi melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ajibata. Kami berdua pun naik ke kapal tersebut untuk iseng-iseng ikut mengadu nasib, bermain judi janggar-janggar, siapa tahu Dewi Fortuna lagi berpihak. Tetapi niat kami hanya bermain sebentar, sesudah itu akan meneruskan perjalanan ke Ajibata.

Tanpa terasa kami keasyikan bermain janggar-janggar dan tak sadar kapal sudah mundur perlahan-lahan menjauhi bibir pantai Parapat. Apa boleh buat, saya dan sobat saya pun menumpang kapal tersebut menuju Pangururan, walau terpaksa, karena waktu perjalanan akan lebih lama dibanding bila berangkat dari Ajibata-Tomok lalu meneruskan perjalanan dengan bus ke Pangururan. Teman-teman kami dari Pangururan pastilah banyak yang pulang melalui pelabuhan Ajibata. Di sana sudah menanti kapal motor ‘Peldatari’ yang akan membawa penumpang ke Tomok.

Kapal yang kami tumpangi pun berangkat menuju Pangururan. Hembusan angin malam di tengah danau yang dingin, membuai penumpang. Ada yang membuang waktu dengan main dadu janggar-janggar (seperti kami berdua), ada yang main kartu remi dan gaple, ada yang menyanyi ramai-ramai diiringi gitar, ada yang ngorok, ada pula yang marsidahopan dohot halletna be (memeluk pacar masing-masing).

Sekitar pukul 4.00 Senin pagi, kapal yang kami tumpangi sandar di tepi kanal Tano Ponggol. Alangkah terkejut dan bingungnya kami semua penumpang karena langsung disambut suara riuh tangis puluhan orang. Ibu-ibu menangis, bapak-bapak berteriak-teriak memanggil-manggil nama. Tepi kanal yang gelap itu dipenuhi tangis bernada andung-andung (ratapan yang memilukan) dan teriakan yang memanggil-manggil nama sanak-saudara mereka. Suasanya menjadi panik dan mencekam karena orang-orang yang sudah menunggu di darat langsung bernaikan ke kapal dan hilir mudik mencari sanak dan kerabat masing masing, sementara penerangan hanya mengandalkan petromak dan senter.

“Didia anggim, amang?” (“Di mana adikmu, amang?’’)

“Adong diberengho laemu?” (“Ada kau lihat lae-mu?”)

“Dang rap hamu nangkin di Parapat?” (“Kalian tidak sama tadi ketika di Parapat?”)

“Ise nangkin donganni berem?” (“Siapa tadi kawannya keponakanmu?”)

“Boasa dang diajakho anggim asa rap hamu naik kapal on?” (“Kenapa tadi tidak kau ajak adikmu agar sama-sama naik kapal ini?”)

“Amang Tuhan, didia ma naeng anakhi?” (“Aduh Tuhan, di manakah anakku?”)

“Hudok do nangkin asa unang laho ibana tu Parapat.” (Sudah kubilang tadi supaya dia tidak usah pergi ke Parapat!”)

Para penumpang kapal keheranan bercampur bingung. “Aha namasa? Boasa mangandungi hamu?” (“Ada apa? Kenapa kalian bertangisan?”)

“Harom kapal di tao ni Tomok! Nangkin pukkul dua!” (“Ada kapal tenggelam di pantai Tomok! Pukul dua tadi!”

Kota kecil Pangururan mendadak heboh, suasana panik, penuh tangisan dan air mata! Sepanjang jalan dari Tano Ponggol menuju pusat kota, masyarakat sudah hiruk pikuk mencari sanak-saudara dan kerabatnya masing-masing, saling bertanya dengan suara keras dan meraung. Orang-orang mondar-mandir tak tentu arah, menjerit, mangandung, berteriak-teriak, berjingkrak-jingkrak bagaikan kesurupan. Saya langsung membayangkan nasib kawan-kawan dekat, kerabat dan tetangga yang pasti banyak yang menumpang kapal Peldatari.

Pagi itu juga kami langsung berangkat menuju Tomok dan sekitar pukul 6.45 tiba di sana. Suasana Tomok sudah gempar, hiruk pikuk manusia yang berjubel dipenuhi wajah kesedihan, muram, tegang, seperti tak berpengharapan. Suara tangis di mana-mana. Ada yang meraung, ada yang histeris memanggil-manggil sanak-saudara mereka.

Mata saya melihat tujuh jenazah terbujur kaku di Puskesmas Tomok! Tiga di antaranya gadis remaja berkulit putih dan berwajah cantik, yang dari gaya pakaian mereka sepertinya bukan warga Samosir. Usut punya usut ternyata mereka kakak-adik, boru Sidabutar yang kebetulan sedang berlibur dari Brebes, Jawa Tengah, ke rumah ompung-nya di Tomok dan sengaja datang jauh-jauh untuk mengikuti pesta Danau Toba.

Suasana pun semakin mencekam seiring semakin banyaknya orang yang datang ke tepi pantai itu. Seorang ibu setengah baya dengan tangisan kuat dan seakan yakin bahwa anaknya ada di antara penumpang Peldatari yang sudah tenggelam, sambil mangandungi menjerit-jerit: “Di manakah dirimu, amang…! Lebih baiklah aku mati bersamamu…!” Tak disangka, ia lalu terjun ke tengah danau karena putusasa (bahasa Batak, “mandele”). Teman-teman yang melihat kejadian tersebut langsung meloncat ke danau dan kemudian menarik ibu yang histeris itu ke darat.

Cerita orang-orang yang selamat, Peldatari berangkat dari pelabuhan Ajibata menuju Tomok dengan kelebihan penumpang. Kapasitas kapal kecil itu maksimal untuk 100 orang ternyata saat itu mengangkut 200-an orang. (Ada yang bilang 250-an penumpang!). Penumpang berjubel di setiap sudut kapal, sementara peralatan keselamatan seperti pelampung, sama sekali tidak ada.

Sebetulnya kapal maut tersebut sudah mau sandar di dermaga Tomok, laju mesin kapal pun sudah dipelankan nakhoda. Sekitar 300 meter lagi menuju dermaga, orang-orang langsung bergerak serentak ke arah depan kapal hanya karena ingin cepat turun supaya dapat tempat duduk di bus dan angkutan pedesaan. Penumpang yang berjejalan di sisi kanan dan depan kapal membuat keseimbangan badan kapal terganggu. Orang-orang sudah berteriak-teriak agar tidak mendesak ke sisi kanan kapal namun tidak dipedulikan. Dalam hitungan detik Peldatari terbalik dan langsung menutupi semua penumpang yang terkurung di bawah danau!

Walau rata-rata penumpang bisa berenang dan jarak ke dermaga hanya dua ratusan meter, ternyata karena kepanikan, mereka saling menarik tubuh kawan atau penumpang lain untuk menyelamatkan diri masing-masing, walau akibatnya kematian bagi orang-orang yang berusaha meloloskan diri dan sudah berada di permukaan danau. Jumlah yang tewas hampir 100 orang!

Menurut kawan dekat kami yang selamat, Tumbur Sitanggang, sepanjang jalan dari areal panggung hiburan menuju pelabuhan, ia dan Amarja Sitanggang dan Ferry Hutaosit (juga kawan dekat kami), sudah bersilang-pendapat mengenai kapal yang akan dinaiki ke Pangururan. Tumbur ngotot supaya mereka pulang lewat kapal yang langsung ke Pangururan, sementara Amarja dan Ferry ngotot pulang lewat Tomok. Pengakuan Tumbur, karena berusaha menghargai pendapat dan keinginan kawan maka ia pun mengalah dan kemudian ikut berjalan kaki menuju Ajibata, walau suara hatinya keberatan.

Kisah lain dialami adik kandung saya. Ia sebetulnya satu rombongan dengan kawan-kawannya yang sekarang sudah almarhumam, yaitu Mian Hutabarat, Melda Situmorang, dan Risda (gadis Minang). Adik saya bersama ketiga almarhumah sudah naik ke Peldatari, namun karena bonekanya ketinggalan, adikku itu turun dari Peldatari dan kemudian pindah ke kapal yang langsung menuju Pangururan (bersama kami), sementara ketiga kawannya tetap di kapal Peldatari.

Dibantu aparat Angkatan Laut dari Belawan yang mahir menyelam, usaha pencarian dilakukan. Penyelaman hari pertama ditemukan lebih 30 jenazah, besoknya ditemukan lagi 50 lebih. Keadaan mereka sangat menyedihkan, saling berpegangan tangan atau kaki di dasar danau yang memang dalam, persis seperti atraksi tim terjun payung. Masih ada satu lagi penumpang yang belum ditemukan, dan itu adalah kawan dekat kami, Amarja Sitanggang. Tim SAR dibantu penduduk setempat dan turis-turis bule yang sukarela ikut menyelam untuk mencari, sampai hari Rabu-nya sudah putusasa. Mereka bolak-balik menyelam tetapi (mayat) penumpang yang satu ini belum diketahui keberadaannya.

Akhirnya dengan bantuan “orang pintar”, permohonan ke “penghuni” danau pun dilakukan. Percaya tak percaya, mayat timbul dengan sendirinya sekitar pukul 12.30. Itulah mayat sobat kami, Amarja Sitanggang! Jenazah Ferry Hutasoit sudah ditemukan hari Selasa siang, sedangkan tetangga-tetangga saya, Mian Hutabarat, Melda Situmorang, dan Rida ditemukan hari Selasa sore. Secara kebetulan rumah Ferry Hutasoit, Amarja Sitanggang, Mian Hutabarat, Rida, hingga rumah Melda Situmorang, kalau ditarik garis akan membentuk garis lurus! Searah. Ini mengherankan warga Pangururan.

Suasana selama tiga hari pencarian tak dapat saya gambarkan dengan kata-kata. Perasaan saya dan kawan-kawan benar-benar nelangsa, apalagi bila ambulans reot yang bolak balik mengantar mayat membunyikan sirenenya. Pemandangan sangat memilukan, ada yang menggotong sendiri mayat anak atau kerabatnya karena keterbatasan kendaraan, ada yang menunggu sampai mendapat kendaraan tumpangan untuk membawa pulang jenazah anak atau saudara ke rumah masing-masing untuk disemayamkan. Setiap ketemu satu mayat, orang-orang langsung berkerumun dan berdesakan untuk mengindetifikasinya. Posisi mayat yang ditemukan umumnya saling berpegangan satu sama lain layaknya rangkaian akrobat parasut di udara, yang menandakan pergolakan naluri mereka untuk bertahan hidup.

Tragisnya, ada satu desa (huta) di atas Tomok yang setiap rumah ada korban kapal maut tersebut. Ada yang kehilangan dua anak, tiga anak, bahkan ada satu keluarga sampai kehilangan delapan anak! Di masing-masing rumah terdengar keriuhan suara tangis yang mangandungi namate nabe (menangisi jenazah anak mereka masing-masing), tanpa satu sama lain sempat saling melayat di antara mereka yang bertetangga dan berkerabat!

Sejak peristiwa yang mengerikan itu saya menarik satu keyakinan bahwa ajal manusia memang bukan ditentukan manusia, tetapi di tangan Tuhan yang Maha Kuasa. Bila saat itu Tuhan memang berkehendak memanggil saya dan kawanku si Naibaho, maka sebagaimana pengakuan Tumbur Sitanggang, saya atau kami akan ikut jadi korban Peldatari. Ternyata malam itu ketika asyik menonton, mereka bertiga duduk di atas panggung bagian belakang sudut kanan. Saya dan si lae Naibaho sebenarnya berdiri di titik tersebut. Entah kenapa kami tidak saling melihat. Tidak bisa saya bayangkan apa jadinya bila kami berlima ketemu, yakin saya akan sama-sama pulang ke Pangururan naik Peldatari dan entah apa yang terjadi.

Tumbur Sitanggang sendiri mengaku tak tahu bagaimana caranya dia menyelamatkan diri, sebagaimana pengakuan kawan dan tetangga lain yang juga selamat. Kata Tumbur, “Ketika sadar, tiba-tiba saya sudah tergeletak di pantat kapal yang mengapung. Saya tidak tahu siapa yang memindahkan tubuh saya ke situ.” Banyak misteri memang dalam hidup ini.

Nakhoda dan pemilik kapal Peldatari langsung melarikan diri setelah peristiwa itu. Berbulan-bulan batang hidung mereka tidak kelihatan di Tomok. Tetapi ketika akhirnya mereka muncul di Tomok, tidak ada tindakan dari penegak hukum untuk mempertangungjawabkan perbuatan mereka, yang karena kelalaian mereka mengakibatkan melayangnya nyawa hampir 100 orang. Rumors di masyarakat Samosir pun bermacam-macam, tetapi intinya adalah penegakan hukum bisa diredam uang dan kekuasaan.

Beberapa bulan kemudian, Bunthora Situmorang bersama Trio Lasidos-nya mengenang peristiwa kelabu bagi warga Samosir itu dengan sebuah lagu, yang dinyanyikan ramai-ramai bersama Rita Butarbutar dan Rina Sidabutar. Lagu yang menusuk perasaan!

Sumber :[http://www.blogberita.com]

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Oktober 17, 2011 in Sejarah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.181 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: